Sistem Perawatan

Agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik, sistem perawatan harus memiliki respons yang baik terhadap kerusakan-kerusakan yang akan muncul maupun  kapasitas kerja yang memadai untuk menangani kerusakan yang telah terjadi. Untuk kepentingan ini maka sistem perawatan harus memiliki dan menjalankan fungsi dari beberapa hal berikut ini:

  1. Variabel-variabel keputusan
  2. Kriteria kinerja
  3. Batasan
  4. Masukan
  5. Keluaran

Bagian berikut berisi uraian tentang hal-hal tersebut satu per satu.

1. Variabel-variabel keputusan

Ada 4 variabel keputusan dalam penentuan kebijaksanaan perawatan, yaitu:

What, menyatakan apa yang harus dirawat.

Dalam proses produksi yang sederhana, penentuan komponen atau fasilitas apa yang harus mendapat prioritas perawatan akan mudah ditentukan. Berlainan dengan proses produksi yang kompleks, di mana mungkin terdapat ratusan bahkan ribuan komponen yang harus dijaga tingkat keandalannya. Untuk kepentingan ini manajemen dapat memakai Metode ABC

Prinsip dasar metode ini adalah menggolongkan komponen atau fasilitas ke dalam kelas A, B atau C berdasarkan kontribusi masing-masing komponen atau fasilitas terhadap keandalan proses produksi secara keseluruhan dan pengaruhnya terhadap total biaya operasi.

1)   Kelas A (Komponen Kritis), yaitu komponen atau fasilitas yang kerusakannya akan mengakibatkan berhentinya proses produksi secara keseluruhan dan memerlukan biaya yang tinggi untuk keperluan repair serta biaya kesempatan produksi yang hilang. Komponen atau fasilitas jenis ini memerlukan pengawasan yang ketat serta usaha perawatan yang intensif.

2)   Kelas B (Komponen Mayor), yaitu komponen atau fasilitas yang mempengaruhi kelancaran proses produksi. Sewaktu mengalami kerusakan, komponen atau fasilitas ini tidak menghentikan proses produksi secara keseluruhan. Komponen atau fasilitas jenis ini memerlukan kontrol perawatan yang sedang.

3)   Kelas C (komponen Minor), yaitu komponen atau fasilitas yang bersifat pendukung (supportive). Kerusakan komponen atau fasilitas jenis ini mungkin menurunkan efisiensi lokal fasilitas yang bersangkutan tetapi tidak menggangggu proses produksi secara keseluruhan. Komponen atau fasilitas jenis ini hanya memerlukan usaha perawatan tang terbatas.

Metode ini akan menghasilkan daftar prioritas komponen atau fasilitas sehingga pihak perawat dapat membuat urutan kerja komponen atau fasilitas apa yang harus dirawat atau diperbaiki terlabih dahulu.

How, menyatakan bagaimana perawatan harus dilaksanakan.

Bagaimana di sini mengacu pada cara apa yang paling tepat untuk dilaksanakan, bukan pada kelengkapan atau kecanggihan yang dimiliki.

Terdapat 3 (tiga) cara yang umum dipakai:

  1. Inspeksi, kegiatan pemeriksaan yang dimaksudkan untuk menentukan kondisi operasi sebuah componen atau fasilitas baik secara visual atau dengan sebuah pengukuran tertentu.
  2. Perawatan Korektif (Repair), kegiatan perawatan yang dilakukan bila sebuah componen atau fasilitas mengalami kerusakan dan tidak mungkin diganti. Sering pula disebut sebagai perawatan darurat (emergency maintenance). Peran metode ABC dalam penetapan prioritas Sangat berarti dalam aktivitas ini.
  3. Perawatan Preventif, kegiatan perawatan yang mencakup inspeksi dan reparasi. Untuk beberapa komponen atau fasilitas dengan pola keausan dan kerusakan yang dapat dideteksi, kegiatan perawatan ini dapat dilaksanakan. Kerusakan yang akan datang dapat diperkirakan sehingga dpat diantisipasi. Biasanya komponen kritis (Kelas A) layak mendapat perawatan preventif secara kontinyu.

Terdapat dua pertimbangan dalam memilih alternatif mana yang terbaik untuk dilaksanakan:

  1. Ketersediaan data akurat untuk pola kerusakan komponen atau fasilitas.
  2. Biaya untuk perawatan preventif, reparasi, dan waktu produksi yang hilang.

Untuk beberapa proses produksi kontinyu, seperti pabrik semen, kilang minyak, penambangan bici logam, dan lain sebagainya, percatan preventif mutlak diperlukan. Dalam hal ini dua pertimbangan di atas dapat diabaikan karena biaya setiap operasi yang dikarenakan penghentian proses produksi sangat tinggi.

Who, menyatakan siapa yang harus melakukan aktivitas perawatan.

Pemilihan terhadap kegiatan perawatan internal atau eksternal didasarkan atas pertimbangan penguasaan teknologi dan frekuensi perawatan. Untuk proses produksi dengan tingkat teknologi yang tidak tinggi, percatan internal sering dilakukan. Contohnya pada industri pengolahan logam, pengalengan, dan lain sebagainya. Lain halnya pada industri pesawat terbang, perakitan komputer, atau pada PLTN. Penguasaan teknologi yang tinggi dan frekuensi kerusakan yang sedikit mengarahkan pihak manajemen untuk memilih perawatan eksternal. Pertimbangan tambahan di sini adalah factor biaya.

Where, menyatakan di mana usaha perawatan dilaksanakan.

Terdapat 2 alternatif umum, yaitu sentralisasi dan desentralisasi. Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan pilihan di atas adalah:

1)      Frekuensi perawatan

2)      Spesialisasi keahlian tenaga perawatan

3)      Prioritas perawatan

4)      Alokasi waktu perawatan.

Perawatan sentralisasi mengakibatkan tingkat utilitas tenaga dan fasilitas perawatan menjadi lebih tinggi tetapi membutuhkan alokasi waktu perawatan yang lebih besar sehingga waktu kerusakan yang dialami komponen atau fasilitas akan lebbih lama. Keadaan sebaliknya akan terjadi pada perawatan desentralisasi.

2. Kriteria Kinerja

Seperti sistem kontrol pada umumnya, sistem perawatan bertujuan memperlancar operasi proses produksi sehingga dapat mencapai penghematan ekonomi. Dari sini dapat dikatakan bahwa ukuran utama dari kinerja sistem perawatan adalah biaya.

Dengan memperhatikan variabel-variabel keputusan yang dibuat maka kebijaksanaan perawatan jangka pendek nantinya akan berupa kombinasi pilihan antara perawatan korektif dan perawatan preventif. Fenomena tersebut akan ditunjukkan oleh gambar berikut ini.

Pemilihan alternatif yang optimal didasarkan atas minimasi biaya total yang ditandai dengan titik ekstrim kelengkungan kurva.

3. Batasan

Sejumlah alternatif yang tersedia dalam aktivitas maintenance dibatasi oleh beberapa hal. Alternatif yang memiliki waktu pelaksanaan jangka panjang (what, who, where) dibatasi oleh perancangan sistem dalam hal proses teknologi, layout, dan kapasitas, yaitu tentang ukuran grup perawatan dan fasilitas yang terlibat. Untuk variabel keputusan how, perancangan agrerat dan anggaran menjadi pembatas dalam hal penentuan jumlah suku cadang.

4. Masukan

Masukan sistem perawatan adalah data tentang komponen dan fasilitas proses produksi dan data tentang perawatan yang telah dilakukan. Data yang tersedia seringkali dianggap kurang mencukupi. Untuk itu perlu diberikan asumsi-asumsi dan perkiraan-perkiraan. Secara umum data masukan untuk sistem perawatan digolongkan berdasarkan kinerja fisik dan ekonominya. Sebagai pembanding, ditunujkkan pula data masukan untuk sistem produksi seperti yang tampak dalam tabel berikut:

Tabel 1 Informasi dalam Sistem Produksi dan Sistem Perawatan


5. Keluaran

Dalam kondisi operasi normal, sistem perawatan menghasilkan:

Jadwal aktivitas untuk:

1)      Inspeksi status komponen atau fasilitas,

2)      Reparasi komponen atau fasilitas yang mengalami kerusakan

3)      Perawatan preventif untuk komponen iritis (kelas A).

Laporan yang mencakup:

1)      Status componen atau fasilitas estela inspeksi, reparasi atau perawatan preventif,

2)      Perencanaan kebutuhan suku cadang,

3)      Perencanaan kebutuhan kapasitas perawatan dalam satuan manhour (jam-orang).

 

Advertising

Monster Kid Frame


@monsterkidframe